Pemanfaatan Ekstraksi Pelarut Bertekanan dan Pelarut Eutektik Dalam sebagai Teknik Ekstraksi Hijau Sinergis untuk Pemulihan Senyawa Bioaktif dari Biji Kurma (Phoenix dactylifera L.)
Biji kurma, produk sampingan yang sering dibuang dari buah yang dicintai, menyimpan harta karun senyawa bioaktif—dan para ilmuwan telah menemukan cara yang lebih hijau untuk mengungkapnya.
Setiap buah kurma meninggalkan biji. Sebagian besar berakhir sebagai limbah, tetapi sebuah studi baru mengubah biji sederhana ini menjadi sumber senyawa berharga menggunakan kombinasi ekstraksi ramah lingkungan. Tim ini menggabungkan ekstraksi pelarut bertekanan (ASE)—teknik otomatis dan efisien—dengan pelarut eutektik dalam (DES), kelas pelarut hijau yang murah dan dapat terurai secara hayati.
Enam DES yang berbeda diuji, dan yang terbaik adalah kombinasi asam laktat dan etilen glikol. Para peneliti kemudian menyempurnakan proses dengan memvariasikan rasio padatan-pelarut, siklus statis, waktu, suhu, dan ukuran partikel. Kondisi optimal adalah rasio 2,0:2:50 g/g/mL, dua siklus statis, dan waktu statis 10 menit pada suhu 100°C.
Jika dibandingkan dengan metode hijau lainnya—ekstraksi berbantuan gelombang mikro (MAE) dan ekstraksi berbantuan ultrasonik (UAE)—MAE menjadi yang paling efektif untuk memulihkan senyawa bioaktif dari biji kurma, diikuti oleh ASE dan UAE. Studi ini juga mengungkap wawasan kunci: agar DES dapat bekerja dengan baik dalam sistem ASE, DES harus memiliki viskositas rendah agar mudah bergerak melalui sel ekstraksi.
Karya ini menunjukkan bagaimana limbah pertanian seperti biji kurma dapat diubah menjadi produk bernilai tambah, menawarkan jalan berkelanjutan untuk industri makanan dan farmasi.
Poin Kunci
- DES (asam laktat: etilen glikol) adalah pelarut paling efisien.
- Kondisi optimal: 2,0:2:50 g/g/mL, 2 siklus, 10 menit, 100°C.
- MAE mengungguli ASE dan UAE untuk pemulihan senyawa bioaktif.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.