Ekstraksi polifenol dari buah ara (Ficus carica L.) menggunakan pelarut eutektik dalam dengan bantuan ultrasonik: Optimasi proses, wawasan mekanistik, dan evaluasi aktivitas antioksidan
Bagaimana jika rahasia antioksidan berkelanjutan tersembunyi di kulit buah ara yang sederhana? Studi baru mengungkap polifenol menggunakan ultrasonik dan pelarut hijau—tanpa bahan kimia beracun.
Industri agro tenggelam dalam limbah, tetapi sains melihat harta karun. Studi ini mengubah limbah buah ara menjadi tambang emas polifenol bioaktif menggunakan pelarut eutektik dalam alami (NADES) dan ultrasonik. Para peneliti mengoptimalkan proses dengan memvariasikan komposisi pelarut, waktu, dan suhu untuk memaksimalkan efisiensi ekstraksi. Mereka mengidentifikasi senyawa kunci seperti turunan asam galat, asam ellagic, dan flavonoid seperti quercetin, dengan kulit menunjukkan profil yang lebih kaya daripada biji. Ekstraksi berbantuan ultrasonik mencapai total fenolik hingga 2773,81 mg GAE/L untuk kulit dan 957,86 mg GAE/L untuk biji pada kondisi optimal (etanol-air 48:52, 10 menit). Wawasan mekanistik mengungkapkan bahwa ultrasonik meningkatkan transfer massa dan gangguan sel, sementara NADES menyediakan media biokompatibel. Ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan yang signifikan, menunjukkan potensi untuk aplikasi nutraceutical, kosmetik, dan farmasi. Pendekatan hijau ini tidak hanya memanfaatkan limbah pertanian tetapi juga menawarkan alternatif berkelanjutan untuk pelarut konvensional.
Poin Kunci
- Ultrasonik + NADES mengekstrak polifenol dari limbah buah ara secara efisien.
- Kondisi optimal: etanol-air 48:52, 10 menit, hasil fenolik tinggi.
- Ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan kuat untuk penggunaan nutraceutical.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.