Rebusan Tradisional dan Ekstrak Air Puae dari Kulit Delima sebagai Bahan Anti-Tirosinase Berbiaya Rendah yang Potensial

Turrini F. · Applied Sciences Switzerland · 2020 · 46 sitasi

Bagaimana jika rahasia kulit cerah dan makanan segar tersembunyi di mangkuk buah Anda? Kulit delima, produk sampingan dari pembuatan jus, baru saja membuktikan bahwa mereka memiliki kekuatan anti-pengcokelatan yang hebat.

Setiap tahun, berton-ton kulit delima dibuang setelah pembuatan jus. Namun, sisa sederhana ini jauh dari kata sampah—mereka adalah harta karun senyawa bioaktif. Dalam studi baru, para ilmuwan menguji dua metode berbasis air yang sederhana untuk membuka potensinya: rebusan tradisional dan ekstraksi berbantuan ultrasonik berdenyut (PUAE). Keduanya hanya memakan waktu sepuluh menit, dan keduanya memberikan hasil yang mengesankan.

Ekstraknya kaya akan fenolik, dengan total kandungan fenolik berkisar antara 148 hingga 237 mg setara asam galat per gram kulit kering. Mereka juga menunjukkan kemampuan menangkal radikal yang kuat, hingga 472 mg setara asam askorbat per gram. Namun bintang utamanya adalah ellagitannin, yang terkait langsung dengan penghambatan tirosinase—enzim yang bertanggung jawab atas pencokelatan dan pigmentasi. Ekstrak PUAE memiliki ellagitannin lebih tinggi dan nilai EC50 lebih rendah, yang berarti penghambatan enzim lebih baik, sementara rebusan menawarkan sedikit lebih banyak fenolik dan asam ellagic bebas.

Dengan menggunakan analisis komponen utama, para peneliti menemukan korelasi yang jelas: semakin banyak ellagitannin, semakin kuat penghambatan tirosinase. Ini membuat kedua ekstrak menjanjikan sebagai bahan berbiaya rendah untuk kosmetik atau perawatan anti-pencokelatan. Jadi lain kali Anda mengupas delima, pikirkan dua kali sebelum membuang kulitnya—mungkin saja itu adalah masa depan perawatan kulit alami dan pengawetan makanan.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.