Limbah dan Produk Sampingan Tamarillo (Solanum betaceum Cav.): Komposisi Bioaktif dan Manfaat Kesehatan
Satu pohon tamarillo dapat menghasilkan hingga 30 kg buah setiap tahun—tetapi apa yang terjadi pada kulit, biji, dan ampas yang tersisa? 'Limbah' ini menyembunyikan harta karun senyawa bioaktif.
Tamarillo, juga dikenal sebagai tomat pohon, berasal dari wilayah Andes di Amerika Selatan tetapi telah menemukan rumah kedua di Selandia Baru, di mana petani mengembangkan tiga kultivar komersial: kuning, merah, dan merah-ungu. Buah berwarna-warni ini berutang warna pada antosianin dan karotenoid, pigmen yang juga merupakan antioksidan kuat. Tetapi cerita sebenarnya terletak pada apa yang kita buang.
Setiap pohon menghasilkan hingga 30 kg buah per tahun, dan pengolahan untuk jus, jeli, dan saus tomat meninggalkan limbah signifikan—kulit, biji, dan ampas. Para peneliti kini memeriksa aliran produk sampingan ini, merangkum data dari studi yang ada untuk menyoroti komposisi bioaktifnya. Tujuannya: mengubah limbah menjadi makanan fungsional, farmasi, dan kosmetik.
Di luar nutrisi, budidaya tamarillo mendukung petani kecil, terutama di Brasil di mana ditanam melalui pertanian keluarga. Di Selandia Baru, produksi mencapai sekitar 622 ton pada 2019, dengan ekspor ke Amerika, Australia, dan Asia. Di Argentina, buah ini—dikenal sebagai chilto—semakin diminati untuk penggunaan skala besar yang berkelanjutan. Pesannya jelas: buah yang terabaikan ini, dan limbahnya, mungkin menyimpan kunci kesehatan dan ketahanan ekonomi.
Poin Kunci
- Limbah tamarillo kaya akan senyawa bioaktif.
- Tiga kultivar komersial ada di Selandia Baru.
- Setiap pohon menghasilkan hingga 30 kg buah per tahun.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.