Strategi Berkelanjutan untuk Memperoleh Senyawa Bioaktif dari Kulit Jeruk melalui Ekstraksi Fluida Superkritis, Ekstraksi Berbantuan Ultrasonik, dan Pelarut Eutektik Dalam Alami

Domínguez-Rodríguez G. · Food Research International · 2025 · 28 sitasi

Kulit jeruk, yang sering dibuang sebagai limbah, menyimpan harta karun senyawa bioaktif—dan strategi hijau baru mengungkapnya tanpa pelarut berbahaya.

Setiap tahun, dunia memproduksi lebih dari 152 juta ton buah jeruk, dan hampir separuh beratnya berakhir sebagai limbah—kulit, biji, dan ampas. Sisa-sisa ini lebih dari sekadar sampah; mereka penuh dengan senyawa bioaktif berharga. Namun, ekstraksi mereka sering mengandalkan pelarut beracun dan metode yang boros energi. Sekarang, peneliti mengusulkan pendekatan berurutan yang lebih bersih menggunakan CO2 superkritis dan ekstraksi berbantuan ultrasonik dengan pelarut eutektik dalam alami (NaDES).

Tim menguji kulit jeruk bali, jeruk nipis, dan lemon. Mereka menemukan bahwa NaDES spesifik—Kolin Klorida:Asam Tartarat (1:2) untuk jeruk bali dan lemon, serta Kolin Klorida:Gliserol (1:2) untuk jeruk nipis—dengan 50% air, menghasilkan kandungan fenolik tertinggi. Anehnya, pra-perlakuan seperti penggilingan kriogenik atau CO2 superkritis tidak meningkatkan perolehan fenolik; mereka justru mengurangi efisiensi dengan memperkecil ukuran partikel dan meningkatkan tegangan permukaan. Ekstrak UAE-NaDES langsung menunjukkan keragaman fenolik tertinggi, dengan naringin mendominasi jeruk bali dan hesperidin pada jeruk nipis dan lemon.

Namun langkah CO2 superkritis bukan jalan buntu. Ekstrak ini memberikan kapasitas antikolinergik yang lebih tinggi dan profil terpenoid yang kaya. Strategi berurutan ini—pertama SC-CO2, lalu UAE-NaDES—menawarkan pemanfaatan kulit jeruk yang lebih holistik, mengubah limbah menjadi tambang emas senyawa penunjang kesehatan.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.