Studi tentang Berbagai Teknik Ekstraksi Akuatik Hijau untuk Mengekstraksi Susu Biji Kapas guna Meningkatkan Kualitas Nutrisi

Subramani T. · Journal of Cotton Research · 2026 · 1 sitasi

Bagaimana jika tanaman kapas, yang lama terpinggirkan karena senyawa beracunnya, bisa menjadi bintang baru susu nabati? Sebuah studi baru mengatakan itu mungkin—dengan teknik ekstraksi hijau yang tepat.

Biji kapas kaya akan protein dan minyak, tetapi senyawa beracun gossypol membuatnya jarang dikonsumsi. Kini, para ilmuwan membandingkan empat metode ekstraksi akuatik hijau untuk mengubah biji yang kurang dimanfaatkan ini menjadi alternatif susu yang bergizi. Metode-metode tersebut—ekstraksi akuatik termodifikasi, berbantuan ultrasonik, berbantuan enzim, dan konvensional—masing-masing memberikan pengaruh unik pada profil nutrisi susu.

Kadar protein dan komposisi asam amino bervariasi secara signifikan antar metode, sementara profil asam lemak tetap stabil. Sifat fisikokimia seperti hasil ekstraksi, viskositas, warna, dan keasaman juga berubah. Protein kasar berkisar antara 2,44 hingga 3,52 g per 100 mL, lemak kasar dari 1,594 hingga 2,953 g per 100 mL, dan gossypol dari 42,0 hingga 67,3 mg·kg⁻¹—semuanya dalam batas aman untuk konsumsi manusia.

Spektroskopi mengungkap perubahan struktural halus pada protein, menunjukkan interaksi gossypol. Namun satu metode menonjol: ekstraksi akuatik berbantuan enzim (EAAE). Metode ini menghasilkan protein dan lemak tertinggi, serta aktivitas antioksidan yang unggul, menjadikannya pilihan paling bergizi dan aman.

Penelitian ini mengubah produk sampingan kapas menjadi alternatif susu yang menjanjikan, menawarkan solusi berkelanjutan bagi mereka yang intoleran laktosa dan peduli lingkungan.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.