Ekstraksi hijau berbasis RSM dari bioaktif berharga dari cabai menggunakan pelarut eutektik dalam kolin klorida-urea yang dipanaskan dengan gelombang mikro
Bagaimana jika rahasia keju yang lebih awet tersembunyi di kulit buah delima? Para ilmuwan baru saja mengubah limbah dapur ini menjadi lapisan antimikroba yang kuat.
Kulit buah delima lebih dari sekadar sampah dapur. Kulit ini kaya akan flavonoid—senyawa alami yang dikenal memiliki sifat antioksidan, anti-inflamasi, bahkan antikanker. Namun, mengekstrak senyawa berharga ini sering kali bergantung pada pelarut keras dan metode yang boros energi. Tidak lagi. Studi ini menggunakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan: pelarut eutektik dalam kolin klorida-urea, dipadukan dengan pemanasan gelombang mikro, untuk menarik bioaktif secara efisien. Prosesnya dioptimalkan menggunakan Response Surface Methodology (RSM), alat statistik yang menemukan kondisi ekstraksi terbaik dengan lebih sedikit percobaan. Hasilnya? Ekstrak kaya flavonoid yang siap digunakan. Tim kemudian menambahkan ekstrak ini ke dalam keju cheddar segar dengan konsentrasi berbeda. Selama penyimpanan, mereka memantau sifat fisikokimia, daya tarik sensoris, dan umur simpan keju—dan yang terpenting, mereka melacak aktivitas antimikrobanya dengan menghitung bakteri pembusuk dan patogen. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah delima bisa menjadi bahan alami serbaguna: meningkatkan pertahanan keju sekaligus memberi nilai tambah pada limbah pertanian. Ini adalah kemenangan ganda bagi ilmu pangan dan keberlanjutan.
Poin Kunci
- Ekstraksi hijau flavonoid dari kulit buah delima menggunakan pelarut kolin klorida-urea.
- Pemanasan gelombang mikro dan RSM mengoptimalkan proses ekstraksi.
- Ekstrak kulit buah delima sebagai lapisan antimikroba memperpanjang umur simpan keju cheddar.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.