Analisis Kualitatif Ekstrak Klorofil Caulerpa racemosa dalam Pelarut Eutektik Dalam Alami (glukosa-gliserol) menggunakan FTIR

Rumiyati S. · International Journal of Agriculture and Biosciences · 2024 · 14 sitasi

Bagaimana jika kunci ekstraksi klorofil yang lebih ramah lingkungan dan aman tersembunyi di dapur Anda? Sebuah rumput laut dan campuran gula-gliserol baru saja membuktikannya.

Klorofil, pigmen hijau yang menggerakkan fotosintesis, juga merupakan bahan berharga dalam farmasi, makanan, dan kosmetik. Namun ekstraksi konvensional sering bergantung pada pelarut keras dan beracun. Kini, para ilmuwan beralih ke Pelarut Eutektik Dalam Alami, atau NADES, yang terbuat dari glukosa dan gliserol—senyawa yang tidak berbahaya dan melimpah.

Dalam studi ini, peneliti menguji tiga rasio glukosa terhadap gliserol—1:1, 1:2, dan 1:3—untuk mengekstrak klorofil dari rumput laut Caulerpa racemosa. Setelah menyiapkan rumput laut sebagai bubuk halus, mereka mencampurnya dengan masing-masing NADES, mengocoknya dalam inkubator, dan memisahkan cairan menggunakan filtrasi dan sentrifugasi. Ekstrak yang dihasilkan dianalisis dengan FTIR-ATR, teknik yang mengidentifikasi gugus fungsi molekul.

Spektrum FTIR mengkonfirmasi keberadaan tanda khas klorofil—gugus O-H, C-H, dan C=O—membuktikan ekstraksi berhasil. Di antara rasio, campuran 1:2 bekerja paling baik, menghasilkan efisiensi tertinggi. Penulis menyimpulkan bahwa NADES tidak hanya efektif tetapi juga ramah lingkungan, tidak beracun, dan dapat terurai secara hayati, menawarkan jalur yang menjanjikan untuk produksi klorofil skala besar.

Ini bukan sekadar keingintahuan laboratorium. Ini adalah langkah menuju kimia berkelanjutan yang dapat menggantikan pelarut beracun dalam industri yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Pekerjaan di masa depan dapat menyempurnakan campuran ini dan memperluas penggunaannya untuk senyawa bioaktif lainnya.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.