Optimasi Ekstraksi dan Profil Senyawa Fenolik dengan HPLC–MS/MS dari Ekstrak Biji Anggur Merah Menggunakan Pelarut Konvensional dan Deep Eutectic Solvents
Bagaimana jika rahasia antioksidan yang lebih baik tersembunyi di limbah segelas anggur favorit Anda? Biji anggur, yang sering dibuang, adalah harta karun senyawa bioaktif—dan kami baru saja menemukan cara yang lebih hijau untuk mengeluarkannya.
Pembuatan anggur meninggalkan gunungan limbah anggur—biji, kulit, dan tangkai. Namun biji tersebut bukan sekadar sampah; mereka kaya akan senyawa fenolik yang bermanfaat bagi kesehatan dan industri. Dalam penelitian ini, para peneliti mengoptimalkan ekstraksi senyawa-senyawa ini dari biji anggur merah menggunakan desain statistik bernama Box–Behnken. Titik optimalnya: rasio sampel-pelarut 1:10, waktu ekstraksi 30 menit, dan suhu lembut 50°C.
Untuk membuat proses ini lebih berkelanjutan, mereka membandingkan pelarut eutektik dalam alami (NADES)—kolin klorida:asam sitrat, atau ChCit—dengan etanol tradisional. Delapan varietas anggur merah diuji, dan ekstraknya dianalisis menggunakan HPLC–MS/MS. Hasilnya mengejutkan: procyanidin B1, antioksidan kuat, melebihi 1 mg per gram berat kering di setiap sampel.
Anehnya, kedua pelarut menghasilkan tingkat fenolik dan aktivitas antioksidan yang serupa. Namun NADES memiliki keunggulan jelas: ia menunjukkan afinitas kuat terhadap procyanidin dan korelasi erat antara aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik. Pelarut hijau ini bisa menjadi masa depan valorisasi limbah anggur—mengubah produk sampingan menjadi sumber daya berharga.
Poin Kunci
- Ekstraksi optimal: rasio 1:10, 30 menit, 50°C.
- NADES (ChCit) setara etanol dalam efisiensi, dengan manfaat tambahan.
- Procyanidin B1 melebihi 1 mg/g pada semua delapan varietas anggur.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.