Karakterisasi Morfologi Bunga Tembakau (Nicotiana tabacum) dan Analisis Kimia-Fungsional Ekstrak dari Serbuknya Menggunakan Pelarut Hijau (NaDESs)
Bunga tembakau yang selama ini dibuang sebagai limbah, mungkin menyimpan rahasia untuk kosmetik yang lebih hijau—jika kita mengekstraknya dengan pelarut hijau yang tepat.
Setiap tahun, pertanian tembakau menghasilkan berton-ton limbah pra-panen—terutama bunga yang dibuang untuk meningkatkan pertumbuhan daun. Alih-alih membiarkannya membusuk di ladang, para ilmuwan kini melirik bunga-bunga yang terbuang ini sebagai harta karun antioksidan. Tantangannya? Menemukan cara ramah lingkungan untuk mengeluarkan potensinya. Masuklah Natural Deep Eutectic Solvents (NaDESs)—hijau, tidak beracun, dan ternyata sangat efektif. Dalam studi ini, peneliti membandingkan lima NaDESs dengan empat pelarut konvensional untuk mengekstrak senyawa bioaktif dari serbuk bunga tembakau. Yang menonjol adalah SALA, campuran asam laktat dan sukrosa, yang berhasil menarik senyawa fenolik total tertinggi (3420.0 µg GAE/mL)—lebih banyak daripada pelarut tradisional mana pun—dan secara unik selektif terhadap fenolik. Sementara itu, CU (kolin klorida-urea) unggul dalam ekstraksi flavonoid dan alkaloid. Semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan, dan NaDESs berbasis asam mengelompok dalam heatmap, dengan kinerja terbaik dalam penangkapan H2O2. Ekstrak hijau ini bisa segera digunakan dalam formulasi kosmetik, memberikan sentuhan berkelanjutan bagi industri kecantikan. Dengan meningkatnya permintaan produk ramah lingkungan, NaDESs mungkin menjadi masa depan kosmetik berbasis tanaman.
Poin Kunci
- SALA (asam laktat-sukrosa) menghasilkan fenolik tertinggi (3420 µg GAE/mL).
- CU (kolin klorida-urea) terbaik untuk flavonoid dan alkaloid.
- Semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan; NaDESs asam unggul dalam penangkapan H2O2.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.