Ekstraksi Metabolit Sekunder dengan Bantuan Gelombang Mikro Menggunakan Pelarut Hijau Etil Laktat dari Ambrosia arborescens: LC/ESI-MS/MS dan Aktivitas Antioksidan
Bagaimana jika kunci kimia yang lebih ramah lingkungan tersembunyi dalam aditif makanan umum? Etil laktat, pelarut yang berasal dari jagung, baru saja mengungguli metanol tradisional dalam mengekstrak senyawa obat dari tanaman Peru—dengan bantuan gelombang mikro, lho.
Selama puluhan tahun, laboratorium mengandalkan pelarut organik keras seperti metanol untuk menarik metabolit sekunder berharga dari tanaman. Namun pelarut ini memiliki harga lingkungan yang mahal. Sekarang, para ilmuwan beralih ke alternatif yang lebih hijau, dan etil laktat—pelarut biodegradable yang sudah digunakan dalam makanan dan kosmetik—sedang menjadi sorotan.
Dalam studi baru, para peneliti menggunakan etil laktat yang dikombinasikan dengan ekstraksi berbantuan gelombang mikro (MAE) pada Ambrosia arborescens, tanaman obat asal Peru. Hasilnya mencolok: duet hijau ini mengekstrak hasil 15,07%, mengungguli metode tradisional metanol/maserasi yang hanya 12,6%. Bahkan isolasi senyawa kunci, psilostachyin, sebanding (0,44% vs 0,40%).
Analisis kimia melalui UHPLC-ESI-MS/MS mengungkap 28 senyawa dalam kedua ekstrak, dengan hanya dua asam amino tambahan pada versi metanol. Dan dalam hal kekuatan antioksidan, ekstrak etil laktat justru menunjukkan aktivitas sedikit lebih tinggi pada uji ORAC dan DPPH.
Ini bukan sekadar keingintahuan laboratorium. Ini bukti bahwa kimia hijau bisa menyamai—dan kadang melampaui—metode konvensional. Dengan mengganti metanol dengan etil laktat dan maserasi dengan gelombang mikro, kita selangkah lebih dekat ke proses ekstraksi berkelanjutan yang tidak mengorbankan efisiensi.
Poin Kunci
- Etil laktat/MAE menghasilkan 15,07% vs metanol/maserasi 12,6%
- 28 senyawa teridentifikasi di kedua ekstrak via UHPLC-ESI-MS/MS
- Etil laktat menunjukkan aktivitas antioksidan sedikit lebih tinggi pada ORAC/DPPH
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.