Ekstraksi Berbantuan Gelombang Mikro Senyawa Bioaktif dari Urtica dioica menggunakan Optimasi Proses Berbasis Pelarut dan Karakterisasi
Jelatang, tanaman yang tampaknya menyengat, mungkin memegang kunci ekstraksi antioksidan yang lebih ramah lingkungan—jika kita memanaskannya dengan microwave dengan tepat.
Daun jelatang adalah harta karun botani, kaya akan fenolik, flavonoid, dan mineral. Namun untuk membuka kekayaan bioaktifnya, para ilmuwan membutuhkan pelarut dan kondisi yang tepat. Studi ini beralih pada ekstraksi berbantuan gelombang mikro, teknologi hijau yang cepat, dan membandingkan air, etanol 80%, dan pelarut eutektik dalam alami (NADES) yang terbuat dari kolin klorida dan asam laktat.
Menggunakan desain statistik yang disebut RSM-BBD, tim mengoptimalkan daya, waktu, dan rasio sampel-pelarut untuk setiap pelarut. Hasil terbaik muncul pada daya rendah—300 W—dengan waktu singkat (10–17 menit) dan volume pelarut yang moderat. Untuk NADES, titik optimalnya adalah 300 W, 10 menit, dan rasio 1:13.
Ekstrak yang dioptimalkan kemudian diuji untuk kekuatan antioksidan (TPC, TFC, DPPH, ABTS, FRAP) dan aktivitas antimikroba terhadap tiga bakteri patogen: Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, dan E. coli. Analisis lanjutan melalui U-HPLC, GC-MS, dan LC-MS mengungkap profil kimianya.
Verdiktnya? NADES (ChCl: asam laktat) terbukti unggul, memberikan aktivitas antioksidan tinggi dan potensi antimikroba yang baik. Pelarut hijau ini bisa menjadi pengubah permainan untuk nutraceutical dan farmasi berbasis jelatang.
Poin Kunci
- NADES (ChCl: asam laktat) menghasilkan aktivitas antioksidan tinggi
- Optimum: 300 W, 10–17 menit, rasio pelarut rendah
- Ekstrak melawan Staphylococcus, Streptococcus, dan E. coli
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.