Integrasi Response Surface Methodology dan Profil FTIR-Multivariat untuk Optimasi Ekstraksi Hijau Antioksidan dari Mangrove Indonesia Sonneratia alba
Tersembunyi di kulit batang mangrove Indonesia terdapat harta karun antioksidan—tetapi bagaimana cara mengeluarkannya tanpa merusak planet? Dua metode ekstraksi hijau baru saja bertanding, dan pemenangnya mungkin mengejutkan Anda.
Mangrove adalah pahlawan ekologis, tetapi potensi kimianya sebagian besar belum dimanfaatkan. Sekarang, para ilmuwan beralih ke Sonneratia alba, spesies mangrove dari Pantai Maumere di Nusa Tenggara Timur, Indonesia, untuk menemukan antioksidan alami. Tantangannya? Mengekstraksi senyawa ini secara efisien dan berkelanjutan. Dua teknik ramah lingkungan—ekstraksi berbantuan gelombang mikro (MAE) dan ekstraksi berbantuan ultrasonik (UAE)—diuji, dengan optimasi yang dipandu oleh response surface methodology (RSM).
Hasilnya mencolok. UAE, menggunakan gelombang ultrasonik pada suhu 40°C selama 30 menit, menghasilkan tingkat fenolik (321,55 mg GAE/g) dan flavonoid (11,48 mg QE/g) yang lebih tinggi, bersama dengan aktivitas antioksidan yang mengesankan (IC₅₀ = 22,41 µg/mL). Sementara itu, MAE, menggunakan daya microwave 700 W, mencapai hasil ekstraksi yang lebih tinggi (25,97%) hanya dalam 1 menit—meskipun dengan kandungan fenolik dan flavonoid yang sedikit lebih rendah.
Spektroskopi FTIR mengonfirmasi keberadaan gugus aromatik, karbonil, dan hidroksil, yang khas untuk senyawa fenolik dan alkaloid. Jadi, metode mana yang menang? Tergantung pada tujuan Anda: UAE untuk ekstrak kaya antioksidan, MAE untuk kecepatan dan hasil. Temuan ini membuka jalan untuk ekstraksi antioksidan alami dari mangrove yang lebih hijau dan lebih cerdas.
Poin Kunci
- UAE menghasilkan fenolik dan flavonoid lebih tinggi dengan aktivitas antioksidan kuat.
- MAE mencapai hasil ekstraksi lebih tinggi hanya dalam 1 menit pada 700 W.
- FTIR mengonfirmasi gugus aromatik, karbonil, dan hidroksil dalam ekstrak.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.