Madu dan Pelarut Eutektik Dalam Biomimetiknya Memodulasi Aktivitas Antioksidan Polifenol
Madu itu manis, tetapi apakah cukup kuat untuk meningkatkan antioksidan? Sebuah studi baru mengatakan bisa—jika dicampur dengan polifenol yang tepat.
Madu telah lama dipuji karena kekuatan antioksidan, antimikroba, dan anti-inflamasinya. Namun, dibandingkan dengan produk lebah lain seperti propolis, aktivitas antioksidannya (AOA) masih tertinggal. Para ilmuwan telah mencoba mencampur madu dengan polifenol, tetapi sebagian besar metode membatasi bioavailabilitas polifenol atau merusak karakteristik alami madu. Sekarang, peneliti mengusulkan pendekatan yang lebih cerdas: memperkaya madu dengan ekstrak polifenol dari raspberry, setelah menguapkan pelarutnya. Mereka juga membuat pelarut eutektik dalam biomimetik madu (NaDES) untuk perbandingan. Tim menguji polifenol kunci dari ekstrak dengan madu dan NaDES, mengukur AOA menggunakan empat metode berbeda: DPPH, ABTS, CUPRAC, dan FRAP. Hasilnya menarik—perilaku antioksidan campuran madu-polifenol bervariasi dari sinergisme hingga antagonisme, tergantung pada metode, jenis polifenol, dan konsentrasi. Menariknya, NaDES biomimetik madu menunjukkan perilaku AOA yang mirip dengan madu, menunjukkan bahwa madu memiliki sifat tambahan yang kadang meningkatkan sinergisme atau mengurangi antagonisme. Pada akhirnya, baik madu maupun NaDES biomimetiknya memodulasi aktivitas antioksidan ekstrak polifenol, membuka pintu baru untuk desain makanan fungsional.
Poin Kunci
- Aktivitas antioksidan madu lebih rendah daripada propolis.
- Ekstrak polifenol raspberry memperkaya madu setelah penguapan pelarut.
- Madu dan NaDES biomimetik memodulasi aktivitas antioksidan polifenol.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.