Ekstraksi Hijau Propolis Tipe Poplar: Parameter Ekstraksi Ultrasonik dan Optimasi melalui Metodologi Permukaan Respons
Bagaimana jika kunci untuk membuka senyawa kuat propolis terletak pada resep hijau yang sederhana—asam sitrat dan sedikit propanediol? Para ilmuwan telah menemukan kondisi sempurna untuk melakukannya.
Propolis, 'lem super' lebah, adalah harta karun senyawa bioaktif, tetapi mengekstraksinya sering membutuhkan bahan kimia keras dan energi. Studi ini beralih ke alternatif yang lebih hijau: pelarut eutektik dalam alami (NADES), khususnya campuran asam sitrat dan 1,2-propanediol (1:4). Tujuannya adalah mengoptimalkan ekstraksi ultrasonik propolis tipe poplar, membuat prosesnya efisien dan ramah lingkungan.
Dengan menggunakan metodologi permukaan respons (RSM) dengan desain Box-Behnken, peneliti menemukan titik optimal: rasio pelarut terhadap padatan 30 mL/g, ultrasonikasi 39 menit, dan suhu 65°C. Kondisi ini menghasilkan hasil yang mengesankan—kandungan fenolik total (TPC) sebesar 290,35 mg/g, kandungan flavon dan flavonol total (TFC) sebesar 89,48 mg/g, dan aktivitas penangkal radikal (RSA) sebesar 31,89%.
Analisis kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) mengungkapkan kandungan relatif tinggi senyawa berharga, termasuk pinocembrin, chrysin, galangin, dan phenethyl caffeate (CAPE). Senyawa-senyawa ini dikenal karena sifat antioksidan dan anti-inflamasinya, menjadikan ekstrak ini kandidat yang menjanjikan untuk kosmetik, nutraseutikal, dan farmasi.
Penelitian ini tidak hanya memetakan parameter ekstraksi optimal tetapi juga membuka jalan bagi produk propolis bernilai tinggi yang berkelanjutan—membuktikan bahwa kimia hijau bisa efektif dan ekonomis.
Poin Kunci
- NADES (asam sitrat:1,2-propanediol 1:4) digunakan untuk ekstraksi hijau.
- Kondisi optimal: 30 mL/g, 39 menit, 65°C.
- TPC tinggi (290,35 mg/g) dan senyawa berharga ditemukan.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.