Ekstraksi dan Evaluasi Senyawa Bioaktif dari Biji Kurma (Phoenix dactylifera) Menggunakan Teknik CO2 Superkritis dan Subkritis

Ghafoor K. · Foods · 2022 · 51 sitasi

Biji kurma, yang sering dibuang sebagai limbah, menyimpan harta karun antioksidan—dan para ilmuwan telah menemukan cara hijau bersuhu rendah untuk mengeluarkannya menggunakan CO2.

Lupakan buahnya—biji kurma adalah pahlawan super baru antioksidan alami. Para peneliti membandingkan tiga metode ekstraksi: fluida superkritis (SFE), CO2 subkritis (SubCO2), dan Soxhlet tradisional. Teknik berbasis CO2, yang beroperasi pada suhu rendah dan menggunakan pelarut ramah lingkungan, menghasilkan ekstrak dengan kadar fenolik, flavonoid, antosianin, dan karotenoid yang jauh lebih tinggi pada empat varietas biji kurma: Sukari, Ambara, Majdool, dan Sagai.

Dalam uji laboratorium, ekstrak CO2 ini menunjukkan kekuatan antioksidan, penangkal radikal bebas, dan aktivitas pereduksi besi yang lebih unggul dibandingkan ekstrak Soxhlet. Sebagai contoh, fenolik berkisar antara 143,48 hingga 274,98 mg GAE/100 g, dan aktivitas antiradikal DPPH mencapai nilai IC50 serendah 109,69 µg/mL—angka yang membuat penggemar kesehatan tersenyum.

Tim bahkan memodelkan hasil ekstraksi SFE menggunakan metodologi permukaan respons, menyempurnakan proses untuk efisiensi maksimum. Baik SFE maupun SubCO2 terbukti sebagai alternatif inovatif dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional, menghasilkan ekstrak kaya antioksidan berkualitas tinggi yang berpotensi untuk pangan fungsional dan nutraceutical. Jadi lain kali Anda makan kurma, pikirkan dua kali sebelum membuang bijinya—mungkin itu adalah hal besar berikutnya dalam kesehatan.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.