Pengaruh Frekuensi Ultrasonik pada Ekstraksi Berair Polifenol, Asam Klorogenat, dan Quercetin dari Buah Utuh Pitaya (Hylocereus spp.)

Lian W.T. · Molecules · 2025 · 1 sitasi

Bagaimana jika kunci untuk mengeluarkan senyawa tersehat dalam buah naga bukan hanya buahnya, tetapi gelombang suara yang digunakan untuk mengocoknya? Sebuah studi baru menunjukkan bahwa memilih frekuensi ultrasonik yang tepat dapat membuat semua perbedaan.

Buah naga, atau pitaya, lebih dari sekadar penampilan cantik. Daging dan kulitnya menyimpan harta karun polifenol, termasuk asam klorogenat dan quercetin, senyawa yang terkenal karena kekuatan antioksidannya. Namun, bagaimana cara mengeluarkan kebaikan ini secara efisien dan berkelanjutan? Jawabannya, ternyata, terletak pada suara.

Dalam studi terbaru, para peneliti membandingkan dua frekuensi ultrasonik—40 kHz dan 120 kHz, keduanya pada 300 W—dengan pengocokan sederhana pada 120 rpm. Menggunakan bubuk buah utuh kering dari varietas kulit merah/daging putih (WFP) dan kulit merah/daging merah (RFP), mereka mengekstraksi senyawa bioaktif dalam air, pelarut yang ramah lingkungan.

Pada suhu 40°C dan rasio padatan-cairan 1:20, frekuensi lebih rendah (40 kHz) menjadi bintang untuk total kandungan fenolik dan kapasitas antioksidan, mencapai nilai lebih tinggi hanya dalam 15 menit dibandingkan frekuensi lebih tinggi atau pengocokan, setidaknya untuk jenis daging putih. Kedua metode ultrasonik mengungguli pengocokan dalam menarik asam klorogenat bebas dan quercetin bebas dari kedua varietas, meskipun efisiensinya bervariasi tergantung pada senyawa target.

Penelitian ini menyoroti bahwa frekuensi ultrasonik bukanlah alat yang cocok untuk semua. Dengan menyesuaikan suara, kita dapat merancang ekstraksi bioaktif spesifik untuk makanan nutraceutical, membuat prosesnya lebih hijau dan lebih cerdas.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.