Pengaruh Madu sebagai Pelarut Eutektik Dalam Alami terhadap Stabilitas Fitokimia dan Aktivitas Anti-inflamasi Eurycoma longifolia Jack

Sitthisak C. · Rsc Advances · 2025 · 6 sitasi

Madu bukan sekadar pemanis—ia adalah pelarut alami yang dapat membuka kekuatan tersembunyi dari ramuan herbal tradisional. Namun, apakah paduan kuno ini meningkatkan atau justru melemahkan khasiat penyembuhannya?

Selama berabad-abad, para pengobat tradisional di Asia Tenggara mencampur Eurycoma longifolia Jack (EL), yang dikenal sebagai Pasak Bumi, dengan madu untuk mengobati demam dan meningkatkan vitalitas. Namun, sains baru kini mulai bertanya: apa yang sebenarnya dilakukan madu terhadap senyawa aktif tanaman ini? Sebuah studi baru menyelami misteri manis ini, dengan merawat EL menggunakan madu dan simulasi madu-NADES untuk melacak stabilitas tiga molekul bioaktif kunci: eurycomanone, 9-hydroxycanthine-6-one, dan 9-methoxycanthine-6-one. Hasilnya mengejutkan—madu secara signifikan meningkatkan hasil eurycomanone dan 9-hydroxycanthine-6-one, sementara menurunkan 9-methoxycanthine-6-one. Ini menunjukkan bahwa madu bertindak sebagai pelarut eutektik dalam alami, meningkatkan ekstraksi dan stabilisasi beberapa senyawa namun tidak yang lain. Ketika menyangkut kekuatan anti-inflamasi, tim mengukur inhibisi oksida nitrat (NO) pada makrofag RAW264.7 yang diinduksi lipopolisakarida. Setelah infus 90 hari, EL yang diolah madu menunjukkan inhibisi NO 9,19–68,73%, sedikit lebih rendah daripada EL tanpa perlakuan (10,34–77,93%). Bahkan komponen non-gula dari madu saja menunjukkan efek anti-inflamasi, mengisyaratkan sinergi yang kompleks. Kesimpulannya? Madu mempertahankan aktivitas anti-inflamasi EL, menjadikannya pengobatan alami yang potensial untuk kondisi peradangan—dan pengingat bahwa kearifan tradisional sering menyimpan kedalaman ilmiah yang tersembunyi.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.