Perbandingan pelarut hijau untuk revalorisasi produk samping jeruk: Ekstraksi karotenoid dan aktivitas antioksidan in vitro

Viñas-Ospino A. · Food Chemistry · 2024 · 33 sitasi

Kulit jeruk menyimpan harta karun tersembunyi—karotenoid—dan pelarut hijau baru baru saja membuktikan mampu mengeluarkan lebih banyak daripada heksana tradisional. Mungkinkah limbah makanan menjadi tambang emas pewarna alami?

Setiap tahun, jutaan jeruk diperas untuk diambil jusnya, meninggalkan kulit yang sering terbuang. Padahal kulit tersebut kaya akan karotenoid—pigmen alami dengan kekuatan antioksidan. Tantangannya selalu mengekstraksinya secara efisien tanpa bahan kimia keras. Studi ini bertujuan membandingkan alternatif hijau: minyak nabati, asam lemak, dan pelarut eutektik dalam (DES).

Di antara semuanya, DES hidrofobik baru yang terbuat dari asam oktanoat dan L-prolin—dijuluki C8:Pro—menonjol. Ia mengekstrak 46,01 µg karotenoid per gram kulit, mengungguli heksana yang hanya 39,28 µg. Aktivitas antioksidannya juga tertinggi pada 2438,8 µM TE/mL, diukur melalui tiga metode uji berbeda.

Tim tidak berhenti pada kinerja. Mereka mengkarakterisasi kimia pelarut dan menilai jejak lingkungannya menggunakan dua model evaluasi keberlanjutan. Kesimpulannya? C8:Pro tidak hanya efektif tetapi juga benar-benar hijau.

Ini bukan sekadar ekstraksi yang lebih baik. Ini adalah langkah menuju ekonomi sirkular, di mana limbah kulit jeruk menjadi bahan berharga untuk pewarna alami dan aditif penyehat. Kulit yang Anda buang suatu hari bisa mewarnai makanan Anda—dan melindungi sel Anda.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.