Perbandingan Berbagai Metode Ekstraksi Hijau Senyawa Polifenol dari Ampas Zaitun yang Sudah Diekstraksi dan Bioaktivitas Ekstraknya

Martins V.F.R. · Molecules · 2024 · 20 sitasi

Bagaimana jika ampas zaitun yang sudah diperas minyaknya masih menyimpan segudang senyawa bermanfaat? Sebuah studi baru menunjukkan bahwa metode ekstraksi hijau dapat membuka harta karun ini—bahkan melawan bakteri.

Dalam upaya menuju ekonomi sirkular, limbah adalah emas baru. Industri minyak zaitun menghasilkan gunungan ampas zaitun—dan setelah tetesan minyak terakhir diekstraksi dengan heksana, sisanya sering dibuang. Namun ampas 'terbuang' ini masih mengandung polifenol bioaktif yang menunggu untuk diselamatkan.

Para ilmuwan menguji beberapa metode ekstraksi hijau: pelarut sederhana (air atau campuran hidroalkohol), ultrasonik, Ultra-Turrax (blender berkecepatan tinggi), dan enzim (selulase atau viskoenzim). Mereka mengukur profil fenolik, total fenolik, dan aktivitas antioksidan dari setiap ekstrak.

Hasilnya mengejutkan. Ekstraksi berbantuan enzim, dengan atau tanpa ultrasonik, memberikan hasil tertinggi. Namun ekstraksi hidroetanolik berbantuan ultrasonik (USAHE) menghasilkan fenolik teridentifikasi paling melimpah: 2,021 mg hidroksitirosol, 0,987 mg tirosol, dan 0,121 mg katekol per 100 mg ekstrak. Sementara itu, air biasa pada suhu 50°C mencapai total fenolik dan aktivitas antioksidan terbaik.

Dan bonusnya: ekstrak USAHE menghambat bakteri Gram-positif, terutama Bacillus cereus, dengan penghambatan 67,2% pada konsentrasi ekstrak 3%. Jadi, 'limbah' dari minyak zaitun mungkin saja menjadi sumber pengawet alami dan senyawa kesehatan.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.