Evaluasi Komparatif Pelarut Eutektik Dalam Alami dan Pelarut Konvensional untuk Ekstraksi Senyawa Bioaktif dari Kelopak Saffron

Rahati S. · Applied Food Research · 2026 · 0 sitasi

Kelopak saffron sering dibuang, padahal menyimpan harta karun senyawa penyehat. Mungkinkah pelarut hijau yang dapat terurai secara alami membuka potensi penuhnya?

Kelopak saffron, produk sampingan berwarna dari Crocus sativus, kaya akan fenolik, antosianin, dan flavonoid—tetapi biasanya terbuang sia-sia. Sebuah studi baru membandingkan enam pelarut konvensional, seperti etanol dan metanol, dengan lima pelarut eutektik dalam alami (NADES), termasuk kolin klorida:asam laktat (ChCl:LA). Tujuannya? Untuk melihat mana yang paling efektif mengekstrak senyawa bioaktif ini.

Hasilnya mengejutkan. ChCl:LA muncul sebagai bintangnya, mencapai kadar antosianin monomerik total tertinggi (11,63 mg/g), fenolik total (83,04 mg GAE/g), dan aktivitas antioksidan (90,29%). ChCl:Gly juga menunjukkan potensi. Lebih dari sekadar kekuatan ekstraksi, ekstrak berbasis NADES menunjukkan retensi pigmen dan stabilitas yang unggul selama pengujian 2 bulan, seperti yang dikonfirmasi oleh analisis kolorimetri.

Manfaatnya tidak berhenti di situ. Uji antimikroba mengungkapkan bahwa ekstrak NADES, terutama ChCl:LA, menghambat E. coli dan S. aureus secara kuat, sementara sebagian besar pelarut konvensional menunjukkan efek lemah. Hebatnya, ekstrak ChCl:LA tetap biokompatibel, menjaga viabilitas sel di atas 80% dalam uji fibroblas.

Ini menempatkan ChCl:LA sebagai pelarut food-grade, biodegradable, dan multifungsi—bukan hanya pilihan yang lebih hijau, tetapi juga lebih cerdas untuk membuka nilai tersembunyi dalam limbah pertanian.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.