Minyak bekatul yang diperkaya chamuangone memperbaiki neurodegenerasi pada model tikus Parkinson yang diinduksi haloperidol melalui modulasi mediator neuro-inflamasi dan penekanan penanda stres oksidatif
Bagaimana jika senyawa dari daun salad Thailand bisa melawan penyakit Parkinson? Sebuah studi baru mengungkap bagaimana chamuangone, yang diekstrak dari Garcinia cowa, menunjukkan harapan pada model tikus penyakit tersebut.
Dalam upaya mencari pengobatan baru untuk Parkinson, para peneliti beralih ke sumber yang tak terduga: daun Garcinia cowa, tanaman yang digunakan dalam salad Thailand. Dari daun ini, mereka mengekstrak chamuangone, senyawa bioaktif dengan sifat antioksidan yang kuat. Dengan memperkaya minyak bekatul dengan senyawa ini, mereka menciptakan CERBO, yang mengandung 1,97 mg/mL chamuangone, menggunakan metode ekstraksi hijau.
Studi ini menguji CERBO pada tikus dengan gejala mirip Parkinson yang diinduksi haloperidol. Tikus menerima kontrol, kontrol penyakit, atau perawatan CERBO dengan dosis 2,5, 5, dan 7,5 mg/kg, diberikan secara oral sebelum injeksi haloperidol selama 21 hari. Setelah periode perawatan, para peneliti mengevaluasi gejala motorik dan non-motorik, penanda stres oksidatif, dan neuroinflamasi.
Hasil menunjukkan bahwa CERBO secara tergantung-dosis memperbaiki gejala motorik dan non-motorik pada tikus yang dirawat. Ini juga mengembalikan kadar enzim antioksidan seperti katalase, dan mengurangi penanda stres oksidatif dan neuroinflamasi. Temuan ini menunjukkan bahwa chamuangone bisa menjadi kandidat terapi alami untuk penyakit Parkinson, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan.
Poin Kunci
- Chamuangone dari daun Garcinia cowa memperkaya minyak bekatul.
- CERBO memperbaiki gejala motorik dan non-motorik pada tikus Parkinson.
- Mengurangi stres oksidatif dan neuroinflamasi secara tergantung-dosis.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.