Ampas Apel sebagai Sumber Fenolik Berharga: Dari Kinetika Pengeringan hingga Optimasi Ekstraksi Berbantuan Ultrasonik Menggunakan Pelarut Konvensional dan Alternatif
Tahukah Anda bahwa hampir sepertiga dari setiap apel berakhir sebagai limbah? Namun ampas ini adalah tambang emas senyawa penunjang kesehatan, dan para ilmuwan baru saja menemukan cara yang lebih ramah lingkungan untuk mengeluarkannya.
Saat apel dihancurkan untuk jus atau sari buah, hingga 30% buah menjadi ampas—biji, kulit, dan daging buah. Produk samping ini kaya akan serat, vitamin, dan polifenol, tetapi sering dibuang. Sekarang, para peneliti mengubah limbah ini menjadi harta karun senyawa bioaktif.
Studi ini membandingkan dua metode pengeringan—konveksi udara panas dan inframerah—untuk melihat pengaruhnya terhadap pelestarian polifenol. Kedua metode mengubah warna dan kandungan antioksidan, dengan suhu yang lebih tinggi menunjukkan manfaat mengejutkan: mereka menonaktifkan sebagian enzim pencoklatan, sehingga lebih banyak senyawa baik yang dipertahankan. Pengeringan inframerah unggul, menggunakan lebih sedikit energi dan waktu.
Untuk ekstraksi, tim menguji ekstraksi berbantuan ultrasonik dengan berbagai pelarut. Pelarut eutektik dalam alami yang terbuat dari kolin klorida dan gliserol (1:1) mengungguli pelarut konvensional, menghasilkan lebih banyak fenolik dengan aktivitas antioksidan tinggi. Optimasi proses ini menghasilkan ekstrak yang kaya flavan-3-ol seperti katekin dan epigalokatekin, serta asam klorogenat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ampas apel bukan sekadar limbah—ia adalah sumber senyawa penunjang kesehatan yang berharga, dan NaDES berbasis poliol menawarkan cara berkelanjutan dan efisien untuk mendapatkannya kembali.
Poin Kunci
- Ampas apel adalah 25–30% massa buah segar, kaya polifenol.
- Pengeringan inframerah mengungguli udara panas dalam kecepatan dan energi.
- NaDES kolin klorida-gliserol mengekstrak fenolik secara optimal.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.