Potensi Antioksidan dan Antimikroba Ekstrak Malva neglecta Wallr. yang Disiapkan dengan Pelarut "Hijau"
Bagaimana jika kunci untuk membuka kekuatan penyembuhan tanaman terletak bukan pada bahan kimia keras, melainkan pada pelarut hijau yang terinspirasi alam? Untuk pertama kalinya, para ilmuwan menguji alternatif ramah lingkungan ini pada tanaman obat Malva neglecta, mengungkap harta karun antioksidan yang tersembunyi.
Malva neglecta, gulma sederhana yang sering diabaikan, sebenarnya adalah gudang senyawa bioaktif. Para peneliti kini menguji bunga, daun, dan akarnya menggunakan berbagai pelarut hijau—termasuk etanol 70% dan dua pelarut eutektik dalam alami (NADES) baru yang terbuat dari kolin klorida dengan asam sitrat atau gliserol. Ini menandai pertama kalinya NADES diterapkan pada spesies ini.
Tim mengidentifikasi profil kaya glikosida flavonoid dan asam fenolik, dengan bunga dan daun menunjukkan keragaman dan konsentrasi tertinggi, didominasi oleh glikosida quercetin dan kaempferol. Ekstrak etanol memiliki total fenol, flavonoid, dan tanin terkondensasi tertinggi, tetapi ekstrak bunga—terlepas dari pelarut—menunjukkan aktivitas antioksidan terkuat dalam uji DPPH, FRAP, dan ABTS.
Uji antimikroba memberikan gambaran yang bernuansa. Sementara ekstrak etanol efektif melawan bakteri seperti Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus, ekstrak NADES1 (berbasis asam sitrat) menunjukkan potensi antibakteri yang lebih tinggi. Aktivitas antijamur kurang jelas, dengan ekstrak akar NADES1 memimpin melawan jamur seperti Aspergillus dan Penicillium. Yang menonjol, ekstrak NADES2 (berbasis gliserol) tidak menunjukkan efek antimikroba sama sekali, menyoroti bahwa pilihan pelarut sangat penting dalam ekstraksi hijau.
Poin Kunci
- Penggunaan pertama NADES pada Malva neglecta
- Bunga dan daun terkaya antioksidan
- NADES1 mengungguli etanol melawan bakteri
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.