Aktivitas antioksidan dan antimikroba dari ekstrak biji Salvia hispanica L. yang berkelanjutan terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif
Biji chia lebih dari sekadar tren makanan super—mereka mungkin menjadi senjata ramah lingkungan berikutnya melawan bakteri bawaan makanan.
Lupakan pengawet sintetis. Para ilmuwan beralih ke kimia alami, dan biji chia menjadi sorotan. Peneliti di Aljazair membandingkan dua metode ekstraksi hijau—Soxhlet berair dan maserasi etanol—untuk menarik senyawa bioaktif dari biji chia gelap. Tujuannya? Untuk melihat apakah ekstrak ini dapat melawan bakteri Gram-positif dan Gram-negatif yang merusak makanan dan mengancam kesehatan.
Ekstrak Soxhlet berair unggul dalam fenol, menunjukkan daya antioksidan kuat: 88% inhibisi DPPH hanya pada 400 μg/mL. Sementara itu, ekstrak maserasi etanol lebih kaya flavonoid dan menunjukkan aktivitas antimikroba moderat yang bergantung pada dosis. Saat diuji terhadap sembilan strain mikroba, bakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes adalah yang paling rentan, dengan zona inhibisi hingga 12 ± 1 mm.
Namun kejutan tidak berhenti di situ. Klebsiella pneumoniae, bakteri Gram-negatif yang terkenal sulit, menunjukkan zona 15 ± 1 mm yang luar biasa pada 15 mg/mL, sementara Candida albicans—musuh jamur—juga sangat rentan pada 14 ± 1 mm. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak biji chia yang diekstraksi hijau dapat berfungsi sebagai pengawet alami, menawarkan alternatif berkelanjutan untuk keamanan pangan dan aplikasi agroindustri.
Poin Kunci
- Ekstrak Soxhlet berair: 88% inhibisi DPPH pada 400 μg/mL
- Bakteri Gram-positif paling sensitif (hingga 12 ± 1 mm)
- Klebsiella pneumoniae: zona 15 ± 1 mm pada 15 mg/mL
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.