Mengembangkan Praktik Berkelanjutan Berbasis Radiasi UV-C untuk Memanfaatkan Residu Kurma Bermutu Rendah dari Produksi Sirup Kurma

Djaoud K. · Food Research International · 2025 · 0 sitasi

Bagaimana jika ampas sisa produksi sirup kurma bisa menjadi harta karun nutrisi? Sebuah studi baru menunjukkan bahwa sinar UV-C dapat mengubah limbah ini menjadi bahan fungsional yang kaya manfaat.

Produksi sirup kurma menyisakan gunungan ampas yang sering dibuang begitu saja. Namun, produk samping berserat ini jauh dari kata tidak berguna. Para peneliti di Aljazair dan Spanyol menemukan bahwa residu ini kaya akan serat pangan dan polifenol, dan perlakuan sederhana dengan sinar UV-C dapat membuatnya semakin bernilai.

Tim tersebut membandingkan tiga metode ekstraksi ramah lingkungan—gelombang mikro, ultrasonik, dan penangas air—untuk melihat mana yang mempertahankan senyawa bermanfaat terbanyak. Ekstraksi berbantuan gelombang mikro unggul dalam serat, mempertahankan 24,31 g/100 g serat tidak larut dan 29,22 g/100 g serat total. Sementara itu, ekstraksi ultrasonik mencapai rasio serat tidak larut terhadap larut yang ideal yaitu 2,96, hampir sempurna untuk kesehatan pencernaan.

Lalu tibalah kejutan UV-C. Penyinaran ampas selama 20 menit secara signifikan meningkatkan kandungan polifenolnya, terutama pada sampel ekstraksi gelombang mikro. Sementara kapasitas antioksidan yang diukur dengan FRAP dan ORAC tetap stabil, uji DPPH menunjukkan konsentrasi yang lebih tinggi diperlukan untuk menetralkan radikal bebas, menunjukkan efek yang bernuansa. Karbohidrat, yang sudah tertinggi pada sampel penangas air (50,23 g/100 g), tetap stabil di bawah UV-C.

Singkatnya, ampas sirup kurma adalah tambang emas nutrisi, dan sinar UV-C menawarkan cara bersih dan berkelanjutan untuk meningkatkan nilainya. Ini dapat mengarah pada bahan pangan fungsional baru dari apa yang dulunya limbah.

Poin Kunci

Apakah ini membantu?

Komentar

Belum ada komentar — jadilah yang pertama.

Komentar ditinjau dulu sebelum ditampilkan.