Kemajuan dalam Ekstraksi Hijau Polifenol dari Ampas Anggur Fetească albă Menggunakan Pelarut Eutektik Dalam Alami: Optimasi dan Aplikasi sebagai Inhibitor Pencoklatan Enzimatis
Bagaimana jika kulit anggur sisa pembuatan wine bisa menjadi kunci untuk menjaga irisan apel tetap segar dan tidak kecokelatan? Studi ini mengubah ampas tersebut menjadi inhibitor enzim hijau yang kuat.
Dalam upaya mencari solusi berkelanjutan, para peneliti beralih pada pahlawan yang tak terduga: ampas anggur putih dari varietas Fetească albă. Produk sampingan pembuatan wine ini, yang sering dibuang, kaya akan polifenol yang dapat menghambat enzim penyebab pencoklatan enzimatis pada buah. Tim menggunakan pelarut eutektik dalam alami (NaDES) yang terbuat dari kolin klorida dan asam laktat, dengan tambahan air, untuk mengekstrak senyawa berharga ini melalui ekstraksi berbantuan ultrasonik. Setelah mengoptimalkan proses dengan metodologi permukaan respons, mereka mencapai hasil yang mengesankan pada suhu 60°C selama 30 menit dengan rasio cair-padat 10 mL/g. Ekstrak tersebut memiliki kandungan polifenol total 68,89 mg ekuivalen asam galat per gram berat kering, serta flavonoid dan aktivitas penangkal radikal bebas yang kuat. Asam fenolik mendominasi profil, membentuk 70% dari polifenol, dengan asam vanilat sebagai senyawa utama. Saat diuji terhadap polifenol oksidase (PPO) dan peroksidase (POX) dari apel, ekstrak menunjukkan inhibisi yang kuat, dengan nilai IC50 sebesar 0,30 mg GAE/mL untuk PPO dan 33,24 µg/mL untuk POX. Docking molekuler mengungkapkan bahwa fitokimia utama berikatan dengan PPO jauh dari sisi aktif, menunjukkan mekanisme non-kompetitif, sementara mereka berinteraksi langsung dengan sisi aktif POX, mengisyaratkan inhibisi kompetitif. Metode ekstraksi hijau ini tidak hanya memanfaatkan limbah, tetapi juga menawarkan alternatif alami untuk agen anti-pencoklatan sintetis.
Poin Kunci
- Ekstraksi NaDES hijau dari ampas anggur menghasilkan polifenol tinggi.
- Ekstrak menghambat enzim pencoklatan apel PPO dan POX.
- Docking molekuler mengungkap mekanisme inhibisi berbeda untuk PPO vs POX.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.