Alternatif Berkelanjutan untuk Aplikasi Kosmetik: Ekstraksi NADES Senyawa Bioaktif dari Produk Sampingan Hazelnut
Bagaimana jika rahasia kosmetik yang lebih ramah lingkungan tersembunyi di balik cangkang dan kulit hazelnut yang tersisa? Sebuah studi baru mengungkap bahwa produk sampingan yang sering dibuang ini adalah harta karun senyawa bioaktif.
Pengolahan hazelnut meninggalkan kulit, cangkang, dan tepung tanpa lemak—produk sampingan yang kaya akan polifenol, serat, dan molekul berharga lainnya. Alih-alih membuangnya, para ilmuwan mengeksplorasi cara mengubah sisa-sisa ini menjadi bahan untuk nutraceutical dan kosmetik.
Dalam studi ini, peneliti membandingkan tiga pelarut eutektik dalam alami (NADES)—betaine/sorbitol/air, fruktosa/asam laktat/air, dan fruktosa/gliserol/air—terhadap ekstraktan konvensional etanol/air. Mereka memasangkan pelarut ini dengan dua teknik ekstraksi: metode tradisional dengan panas dan pengadukan magnetik, serta ekstraksi berbantuan ultrasonik.
Hasilnya mencolok. NADES betaine/sorbitol/air terbukti unggul untuk ekstraksi dari kulit dan cangkang, sementara fruktosa/asam laktat/air paling optimal untuk tepung tanpa lemak. Meskipun kulit adalah produk sampingan yang paling sedikit jumlahnya, ia memiliki kandungan polifenol dan aktivitas antiradikal tertinggi, menjadikannya kandidat utama untuk aplikasi kosmetik.
Studi ini juga menguji residu ekstraksi yang tersisa untuk konversi menjadi energi atau bahan kimia. Beberapa material menunjukkan potensi untuk konversi termokimia, sementara yang lain cocok untuk pencernaan anaerobik—mengubah limbah menjadi nilai tambah.
Poin Kunci
- NADES mengungguli etanol/air dalam ekstraksi polifenol dari produk sampingan hazelnut.
- Betaine/sorbitol/air terbaik untuk kulit/cangkang; fruktosa/asam laktat/air untuk tepung tanpa lemak.
- Kulit memiliki kandungan polifenol dan aktivitas antiradikal tertinggi.
Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama.